Ahok ? ( power of sufi )

Sukses pria di hadapan publik di ukur sejauh mana dia mampu memimpin keluarganya agar tetap utuh. Semua pria berkeluarga memperjuangkan itu, kita semua tahu bahwa itu jauh lebih sulit daripada memimpin satu kabupaten atau satu provinsi atau bahkan se Indonesia. Memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, memimpin dengan jutaan rakyat sesulit bagaimanapun akan selalu ada solusi karena masalahnya terukur sebatas aturan dan ketentuan yang dibuat secara hitam putih. Tapi keluarga adalah lembaga yang paling rumit dan paling konyol bagi manusia.

Mengapa ? Mengelola rumah tangga tidak bisa dengan mengikuti anjuran ulama karena banyak ulama yang gagal memimpin rumah tangga. Tidak bisa mengikuti nasehat psikiater atau nasehat orang tua. Karana banyak juga psikiater yang jomblo atau orang tua yang cerai. Rumah tangga adalah tempat paling sulit dipahami dengan akal manusia yang serba terbatas. Sangat sulit di resapi dengan luas hati yang terbatas. Rumah tangga adalah dunia kecil yang melatih setiap orang menjadi sempurna. Orang bijak berkata bahwa berumah tangga adalah sama dengan melaksanakan setengah perjalanan menuju Tuhan.

Karenanya tidak bisa kita menilai kita paling baik dalam memimpin rumah tangga walau rumah tangga kita masih utuh. Mengapa ? Semakin anda merasa cocok satu sama lain dengan pasangan semakin besar benturan akan datang. Jadi sama dengan teori karet. Semakin kencang ikatan semakin kencang dia akan mental ke anda. Jadi bagaimana bersikap ? Jangan menganggap rumah tangga adalah suatu kebanggaan pribadi, jangan. Rumah tangga bukan lah ajang aktualisasi diri tapi ajang melatih hidup menaklukan diri. Bukan menaklukan pasangan kita, apalagi ingin memiliki pasangan kita. Jadi jalani saja rumah tangga dengan biasa saja tanpa harus berlebihan.

Saya jatuh cinta berkali kali dengan istri justru disaat saya terpuruk dan orang mengacuhkan saya. Mengapa ? Karena saat itu saya merasa kehadirannya disamping saya karena cinta Tuhan. Dan ketika orang memuji saya dengan kelapangan rezeki, sayapun pening 1000 kali pening karena apapun sikap saya selalu salah dihadapan istri. Padahal diluar orang memuji saya dan menghormati saya. Apakah saya harus kecewa dan lari dari situasi itu? Saya juga tidak mengerti mengapa sampai kini kami masih bertahan sebagai suami istri. Tidak ada teori yang bisa saya ajarkan kalau orang bertanya. Karana saya sadar hubungan saya dengan istri adalah skenario Tuhan, dan saya punya kebebasan memerankannya atau keluar dari atas panggung. Semua orang memilih dan tidak ada pilihan yang paling bagus kecuali pilihan bersahaja…

Ahok adalah pelajaran untuk kita bahwa dia yang setia, amanah dan pekerja keras tidak bisa menghindari perceraian terjadi. Bila saatnya terjadi maka terjadilah. Siapapun bisa saja mengalaminya. Masalahnya bisakah kita mendapatkan hikmah dari keharmonisan dan kehancuran rumah tangga ? Hikmah terindah adalah bahwa kita tidak berdaya dengan hidup kita dan tugas kita menerima kenyataan dengan lapang hati tanpa harus meratapi dan tetap berprasangka baik kepada Tuhan untuk terus melanjutkan hidup menuju sebaik baiknya kesudahan yang Tuhan mau.

Sumber : DDB