oleh

Jabodetabek di kepung PLTU

BEKASI – Belakangan ini masyarakat di hebohkan dengan salah satu situs yang mengecek kualitas udara airvisual.com yang menampilkan kualitas udara dari seluruh dunia. Data mereka diambil dari alat yang mereka sebarkan keseluruh dunia termasuk Indonesia.

Di Jakarta sendiri terdapat 6 contributor yang memasang alat tersebut, mulai dari Greenpeace hingga Kedutaan Besar Amerika. Tercatat ada 6 lokasi di Jakarta yaitu Pejaten Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Rawamangun, Jakarta Barat, Pegadungan.

Saat ini berdasarkan pantauan di 6 lokasi tersebut kualitas udara di Jakarta tergolong tidak sehat. Dianjurkan untuk memakai masker ketika berada di luar ruang.

Penyumbang terbesar selain dari kendaraan bermotor ternyata menurut Walhi dan Greenpeace, polusi udara juga disebabkan karena Jabodetabek di kepung PLTU dari wilayah Jakarta. PLTU berbahan bakar Batubara menurut mereka menyumbang 20 – 30 persen polusi udara, sementara kendaraan bermotor 30 – 40 persen. Sisanya dari pembakaran sampah, dan lainnya.

Polusi udara juga disumbang oleh industri yang masih menggunakan batubara, yang tentu jika tidak ditangani secara serius akan merugikan masyarakat sekitarnya.

Pada tahun 2017 silam, tercatat ada 10 PLTU berbahan batubara ada disekitar Jabodetabek. Diantaranya

PLTU Lestari Banten Energi berkapasitas 670 MW, PLTU Suralaya unit 1-7 berkapasitas 3400 MW, PLTU Suralaya unit 8 berkapasitas 625 MW, PLTU Labuan unit 1-2 berkapasitas 600 MW, dan PLTU Merak Power Station unit 1-2 berkapasitas 120 MW.

Kemudian PLTU Lontar unit 1-3 berkapasitas 945 MW, PLTU Lontar Exp berkapasitas 315 MW, PLTU Babelan unit 1-2 berkapasitas 280 MW, PLTU Pindo Deli dan Paper Mill II berkapasitas 50 MW, serta PLTU Pelabuhan Ratu unit 1-3 berkapasitas 1050 MW. Dan menyusul yang dalam tahap pembangunan diantaranya yang dalam tahap pembangunan hingga saat ini yaitu PLTU Asahimas Chemical unit 1-2 berkapasitas 300 MW, PLTU Jawa-7 berkapasitas 2.000 MW, PLTU Jawa-9 atau Banten Exp. berkapasitas 1.000 MW, serta PLTU Jawa-6 atau Muara Gembong berkapasitas 2.000 MW.

Pemanfaatan Pembangkit listrik ramah lingkungan memang masih jauh dari harapan, karena dari rencana pembangunan pembangkit listrik masih lebih banyak menggunakan batubara sebagai sumber energinya.

Dilema memang, disaat kebutuhan energi listrik semakin besar, teknologi ramah lingkungan memang sangat mahal. Dan pemanfaatan batubara yang murah meriah menjadi pilihan bagi negara berkembang seperti Indonesia.

 

admin
Author: admin

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed