oleh

Pahala dan Surga Untuk Mama

-Cerita-138 views

Tidak ada pernikahan yang sempurna. Tetapi tidak ada pernikahan yang tidak menjanjikan kebahagiaan. Begitulah keyakinan aku ketika menerima di nikahi oleh seorang Jely. Dia tidak pernah menjanjikan apapun terhadap sebuah rumah tangga yang akan kami bangun. Sehingga akupun tidak punya alasan berharap apapun. Ketika dia bertanya apa mimpiku hidup bersamanya ? Aku katakan sekenanya. “Aku ingin ke mekkah bersama suamiku. “ Padahal ketika menikah, dia belum selesai kuliah. Kerja serabutan. Tidak punya penghasilan tetap. Tinggal di rumah kontrakan ukuran 21 Meter. Kami hanya menjalani saja kehidupan kami, dan satu tekad agar kami bisa membesarkan anak anak. Dan andai tidak bisa membanggakan orang tua, kami tidak seharusnya merepotkan orang tua. Begitu sederhananya sikap kami memulai mahligai rumah tangga.

Apakah semuanya baik baik saja. Tidak. Suami saya tidak punya titel sarjana. Tidak pernah bisa sukses berkarir sebagai Pegawai swasta, apalagi pagawai negeri. Kadang saya bingung. Apa yang dia bisa. Bisnis? lebih dari 10 tahun dia tidak pernah benar benar berhasil. Sehingga saya sadar, dia hanya berusaha untuk bertahan dari jatuh tanpa terkapar, dan berusaha bangkit lagi dari sisa tenaganya. Dia bisa sangat hebat menyembunyikan suasana hatinya. Walau aku tahu dia sangat tertekan ketika aku harus menahan diri atas segala kekurangan ekonomi, dan terlibat membantunya agar dapur kami tetap berasap.

Berlalunya waktu, kami benar benar kehilangan mimpi kebahagiaan dengan harta melimpah. Saya tetap harus menjadi istri dan ibu bagi dia. Karena hampir semua dia harus dibantu dirumah. Dari sediakann handuk untuk dia mandi, menyediakan pakaiannnya, dan menemani dia makan. Dia bukan orang yang minta dilayani tetapi sikapnya sangat nrimo mandi tanpa handuk, pakaian ala kadarnya, tidak makan tanpa ditemani. Ini kadang yang membuat aku bingung. Bagaimana suamiku bisa bertarung diluar kalau dalam segala hal sepele dirumah tidak bisa mandiri. Bahkan dia tidak pernah mengerti mengapa harus mengantar aku periksa hamil ke dokter.

Tahun 2003 aku mengatakan bahwa dia harus siap pergi haji. Dia tidak bereaksi apapun. Ketika di dalam pesawat baru dia tanya “ ma, kita mau ke mekkah, ya” kan aneh. Karena selama di Halim dia terus sibuk dengan laptop dan hpnya. Selama dalam perjalanan dia sibuk membaca buku tuntunan haji.

Ketika di Madinah dan Mekkah itulah aku merasakan bahwa Tuhan tunjukan pilihan ku tidak salah. Setelah 15 tahun berumah tangga, Tuhan perlihatkan betapa dia mengurus semua kebutuhanku, termasuk yang sepele. Bahkan dengan mata kepalaku sendiri dia mempertaruhkan nyawanya untuk utamakan aku selamat dari peristiwa mina yang menelan korban manusia tidak sedikit.

Aku tanya “ mengapa papa berubah “
“ Ritual haji itu tidak ada artinya, bila papa tidak bisa memuliakan mama. separuh kesempurnaan agama ada pada rumah tangga dimana kita saling bergandengan tangan dalam situasi apapun. Dan kini kita sempurnakan agama kita melalui ritual haji. Terimakasih telah memberikan kesempatan papa untuk memanjakan mama, dan terimakasih telah sabar dengan kelambanan papa selama ini.

“ Tetapi mengapa selama ini papa biarkan mama repot urus papa dan anak anak ?
“ Agar mama mendapatkan pahala dan dimudahkan masuk sorga. Andaikan papa masuk neraka, mama akan panggil papa ke sorga untuk kita berkumpul lagi, ya kan.” Dia mencintaiku karena mengharapkan ridho Allah dan memberikan kesempatanku dalam kelelahan agar aku mencintainya karena Tuhan.

Dan setelah ritual penutup haji, aku terkejut karena ada petugas Konjen mencari suamiku. Mereka minta kami pulang lebih awal dengan fasilitas negara. Aku bingung dan bertambah bingung, betapa hormatnya konjen terhadap dia. Kami naik pesawat frist class bersama pejabat negara, padahal kami kloter haji mandiri , haji orang kebanyakan. Dan tambah bingung lagi ketika kami sampai di Bandara, Paspamres mengatur semua bagasi kami sampai dirumah. Bagaimana suami saya dapatkan semua fasilitas itu ? siapakah suami saya sebenarnya ? Aku membayangkan suamiku yang nampak selalu manja dan lemah dihadapanku. Ternyata diluar dia petarungku…

Tuhan telah tunjukan bahwa aku tidak salah menerima jodohku, karena aku tidak berharap apapun kepada manusia kecuali ikhlas menerima takdirku sebagai istri yang harus mengabdi kepada suami tanpa bertanya soal takdir …apapun bagiku, kebersamaan dengan seorang jely memang penuh kejutan dan dia tetap rendah hati, sampai kini dia tidak akan makan di rumah kalau saya tidak temanin…

admin
Author: admin

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed